Selasa, 18 April 2017

#koassalahgaul

Koas, sebagaimana mahasiswa kedokteran pasti sudah tahu, adalah mahasiswa kedokteran yang sedang menjalani pendidikan profesi alias satu langkah lebih dekat dengan jas putih. Di sisi lain, kebanyakan mahasiswa kedokteran juga tahu kalau koas adalah sebuah akronim, yaitu dari kumpulan orang aneh serba salah—karena, yep, di mana-mana pasti kami selalu disalahkan.

Buat refreshing diri sendiri, gue akan berbagi contoh 'kesalahan' kami. Beberapa kejadian dari gue sendiri, beberapa lagi dari sesama koas alias teman-teman gue yang namanya disamarkan.

1. Muka
Stase pediatri alias anak adalah salah satu yang paling hell di rotasi koas gue dan 99% koas lainnya dari angkatan gue. Berhadapan dengan anak-anak tentunya ada dilema sendiri. Anak-anak biasanya berwajah unyu, menggemaskan, punya pernak-pernik lucu, dan kalau tertawa membuat kita bahagia, apalagi kalau masih umur-umur bayi. Di sisi lain, kalau mereka sudah menangis, rasanya pengen sujud minta ampun dan berlari sekencang-kencangnya supaya bisa pergi dari depan mereka.

Sisi horor lainnya dari bagian pediatri adalah pembagian follower atau istilahnya pembagian koas mana yang resmi jadi asisten konsulen tertentu. Kalau kebagian konsulen yang asyik, tentunya anugerah. Kalau kebagian yang terdiagnosis killer, nah itu musibah.

Teman gue, Febi, kebetulan kebagian follow konsulen yang orangnya agak strict dan ditakuti/disegani koas lainnya. Gak ada yang berani macam-macam sama konsulen itu, kalau kata yang pernah follow, 'koas beneran dah lu'.

Suatu hari, usai visite, konsulen tersebut menegur Febi sebelum menulis status, "Saya gak suka muka kamu," karena merasa tampang Febi menantang dan nyolot. Setelah bilang begitu, konsulen tersebut serius menghadap status pasiennya dan menuliskan hasil pemeriksaan di rekam medis.

Febi berkata, "Maaf Dok..." dan menggantungkan ucapannya.

Konsulen tersebut berhenti menulis.

"...muka saya emang begini dari lahir."

Tik.

Tik.

Tik.

Prak! Konsulen tersebut membanting pulpennya dan marah. "Kamu berani-beraninya membantah guru!" Follower konsulen tersebut selain Febi langsung tegang. Selama ini memang siapa pun yang berhadapan dengan konsulen tersebut seolah diwajibkan diam dan minta maaf kalau ditegur/diceramahi. Sedangkan Febi malah... bilang mukanya begini sejak lahir.

Waktu dengar cerita ini dari Febi, gue ketawa sampai pipi gue pegal dan tirus—bercanda. Febi terus-terusan bilang, 'jawaban gue kan gak salah', 'kenapa gue harus minta maaf', dan 'gue pikir gue bakalan ngulang anak'.

Kalau dipikir-pikir... memang gak salah jawabannya. Tapi, namanya juga koas. Dianggap selalu salah. (Meski mungkin iya salah karena dianggap membantah. Sekali lagi: namanya juga koas.)

2. Time-out
Salah satu horor lainnya di bagian pediatri adalah minggu perinatologi, alias 2 minggu berhadapan dengan bayi-bayi. Bayinya memang lucu dan mirip bakpao, minta dibawa pulang untuk dijadikan guling, dan bikin beberapa koas cewek ingin cepat punya bayi, tapi ada yang lebih seram di balik kelahiran bayi-bayi tersebut.

Itu adalah masa-masa menunggu kelahiran bayi yang lahir lewat operasi caesar karena koas anak harus melakukan time-out sebelum operasinya dimulai.

Buat yang gak paham, time-out itu semacam laporan pre-operasi, jadi asisten melaporkan ke konsulen mengenai diagnosis ibu yang akan menjalani caesar. Kedengarannya santai, 'laporan buat ngira-ngira bayi apa yang bakal kita terima nanti'. Kenyataannya, serem banget. Kalo dipikir-pikir, mungkin itu juga yang bikin ada format time-out di ruang koas.

Hari itu, gue dan Darma, pasangan jaga gue sepanjang hidup di bagian anak, kebagian ikut operasi caesar sebagai asisten konsulen killer. Karena konsulennya perempuan, kalau senior-senior bilang, mending cowok yang maju. Gue seneng dong, artinya gue aman. Pas habis ganti baju khusus, Darma dengan santai datangin gue yang lagi nyalain warmer.

"Lu time-out ya."

Gue tidak jadi gembira.

"Kok gue?"

Gue panik. Gue kan cewek, ngomong aja suka belepotan. Konsulen killer itu senengnya sama koas cowok, mau koasnya ngomong sambil sikat gigi dan nyembur-nyembur juga kayaknya gak apa-apa. Sekali lagi: gue cewek. Tapi akhirnya, gue mengalah.

Waktu konsulen itu udah duduk di ruangan khusus, gue memberanikan diri. "Selamat siang dok, saya koas Judith mau melaporkan pasien Nyonya X usia blablabla—"

Konsulen gue menoleh.

"Dek, lihat gak saya lagi apa? Kamu tidak sopan sekali kepada guru kamu. Guru kamu lagi sibuk kenapa main nyerocos aja? Harusnya kamu tanya dulu apa saya bisa diganggu atau tidak." Dan intinya 10 menit berlalu hanya membahas soal itu sementara operasinya udah mau mulai. Gue ditegur masalah sopan-santun, kurang lengkap diagnosisnya, dan koas sekarang gak punya rasa ingin tahu.

Oke, kata gue dalam hati. Operasi selanjutnya gue bakalan bikin diagnosis super panjang sampai dia kasih jempol.

Pas gue keluar ruangan, Darma cengar-cengir liat gue dimarahin.

Asemkunyit.

Berhubung hari itu ada 3 operasi, jadi urutan time-out kita begini: gue-Darma-gue. Gue hanya bisa memicingkan mata waktu Darma time-out tanpa disela tanpa diomelin.

Pasien ketiga gue kabarnya kehamilan risiko tinggi, begitu kabar dari koas obgyn (dan rekam medisnya), tapi gak ada info lebih lanjut sehingga gue berinisiatif anamnesis sendiri pasien gue. Dari sana gue dapet banyak informasi yang menurut gue bakalan bikin konsulen gue senang.

Awal time-out gue ke konsulen berlangsung mulus dengan izin kepada beliau untuk laporan, dan diagnosis gue sebutkan dengan lancar. Gue merasa di atas angin.

"Kenapa diagnosisnya kehamilan risiko tinggi?"

"Pasiennya pernah menjalani operasi jantung, Dok." Gue menjawab penuh keyakinan.

"Operasi jantungnya karena apa?"

"Ada riwayat myxoma." Gue mengutip kata-kata pasiennya, padahal waktu itu gue sendiri gak tahu kenapa bisa ada myxoma di jantung dan bagaimana patogenesisnya. Kalau saat itu gue sedang ujian SOCA, gue pasti langsung gak lulus.

"Lalu operasinya di mana?"

"........" Kalau disuarakan, ada bunyi tik tik tik di kepala gue.

Hah?

Di mana? Gue bahkan gak tahu harus nanya yang kayak gitu. Konsulen gue menghela napas. "Harusnya kamu tanya operasinya di mana. Memangnya kamu gak pengen tau di mana? Kan keren kalau tahu operasinya di mana." Konsulen gue menyebutkan satu rumah sakit yang samar-samar gue pernah dengar di suatu waktu dan tempat. "Kalian koas-koas kenapa gak punya rasa ingin tahu sih? Kenapa gak ingin belajar?"

Gue menunduk, merenungi kata-kata konsulen tersebut dan berpikir lama sepanjang sisa operasi. Semua mahasiswa kedokteran selalu diingatkan untuk belajar seumur hidup dan penuh rasa ingin tahu, tapi bagaimana caranya kita sampai di posisi kita merasa 'cukup tahu' karena akan selalu ada orang yang posisinya lebih di atas dan mengatakan kita 'belum cukup tahu'? Apakah konsulen gue juga tetap merasa 'belum cukup tahu'?

Tiga operasi caesar itu berlangsung kurang-lebih tiga jam, dan gue bisa dengan lantang bilang bahwa itu tiga jam terlama dalam hidup gue.

Read More

Followers