Bagi kami, para koas, infus adalah salah satu dari sekian tindakan yang kami anggap keren. Bagaimana tidak, sebagai calon dokter, kami diwajibkan untuk bisa memasang infus pada manekin dan tentunya pada orang betulan. Sejak awal kuliah di preklinik, kami sudah banyak `didoktrin` mengenai hal-hal yang bisa terjadi apabila kita melakukan kesalahan-kesalahan kecil dalam memasang infus. Salah satunya adalah adanya udara di selang infus.
Gue masih ingat betul, sewaktu semester 1 kuliah, gue pernah diopname dan dipasangi infus untuk memasukkan obat-obatan. Karena baru dikasih tahu kalau kemasukan udara dari selang infus bisa bikin emboli, gue selalu sangat panik kalau menemukan udara di selang infus gue dan selalu memencet-mencet bel dengan hiper.
Seorang perawat masuk sambil tersenyum lebar. "Kenapa, Mbak?"
"Ada gelembung di infus saya," gue mengadu, seolah-olah infus yang ada di tangan gue semaunya sendiri `menelurkan` udara ke selang infus gue.
Perawat itu dengan kerennya melakukan manuver sentil-selangnya-sampai-udaranya-naik dan menyelamatkan gue dari emboli udara. Setiap setengah jam atau satu jam, setiap kali gue menemukan infus gue bergelembung, gue memencet bel dengan heboh. Gue kan nggak mau kena emboli, gitu lho. Baru-baru ini, setelah di koas, gue tahu kalau emboli baru terjadi kalau udara yang masuk itu jumlahnya cukup banyak, misalnya sepuluh gram udara.
Asemkunyit.
Suatu siang, gue sedang bertugas jaga ruang operasi atau yang biasa kami sebut sebagai OK bersama seorang teman seangkatan yang jadi junior gue, namanya Bima. Operasi yang kami jaga sebagai koas anestesi adalah operasi hernia—ya, bisa dibaca sendiri hernia itu apa dan operasinya bagaimana
—dan pasien kami yang sudah dibius total memakai infus agar dapat memantau cairan yang masuk dan juga lebih mudah memasukkan obat.
Segalanya berjalan dengan damai, persiapan pembersihan area operasi dan pembiusan pasien tersebut. Time out operasi dibacakan dengan sedikit kegaduhan karena nama pasien yang dibacakan oleh teman gue yang lainnya, Maya, berbeda dengan yang ada di status pasien. Usut punya usut, Maya salah membaca nama yang ditulis oleh perawat OK. Kasus selesai. Pengadilan batal dilaksanakan—bercanda.
Gue dan Bima yang sudah setengah mengantuk dan kelaparan memutuskan untuk tidak banyak bergerak supaya bisa menghimpun banyak cadangan energi. Seperti beruang kutub, kalau sudah kedinginan harus hibernasi. Kami memasukkan obat dan mengganti botol infus dalam diam sampai pada suatu ketika...
"Bim."
"Apa?"
"Ganti tuh, antibiotiknya udah abis." Gue nunjuk botol infus kecil yang diisi oleh racikan antibiotik.
"Oke." Dia membuka botol infus baru, gue melepaskan selang infus dari botol antibiotik—yang selangnya kami kunci tepaaaat sekali sebelum isi kolom udaranya habis. Gue merasa keren, bisa memindahkan infusan dengan gampang. Tapi, sepertinya karma mengutuk gue. Perpindahan infus yang seharusnya berlangsung tanpa ada kejadian aneh malah jadi aneh-aneh betulan. Entah gimana caranya, waktu kita pencet lagi kolom udaranya, selang yang harusnya penuh terisi cairan infus malah terisi udara kira-kira satu setengah sentimeter.
"Lho, ada udaranya!"
"Eh, iya!"
Kita berdua jadi sama-sama seger lagi.
"Bim, ayo keluarin udaranya," ajak gue.
Bima lalu beratraksi—mulai dari melilit-lilitkan selang infus di jarinya sampai menyentil-nyentil heboh. Terakhir, Bima malah memijit-mijit si selang infus supaya udaranya makin lama makin naik. Usaha yang terakhir agak berhasil. Ketika gue dan Bima mau bersorak gembira, udaranya mampet tepat di pangkal selang, sebelum kolom udara.
Krik.
Krik.
Krik.
"Waduh, gimana nih?" tanya Bima.
Gue, yang udah 3 minggu lebih dulu di anestesi, berpikir keras. Gue memang sering lihat perawat OK mengeluarkan udara dari selang infus dengan cara... selang infusnya dilepas dulu lalu cairannya dialirkan ke bawah. Masalahnya, pasien kami ini 'paket hemat' jadi kami harus berhemat sebisa mungkin sampai ke infus-infusnya. Apalagi, perawat yang mensupervisi kami sudah mewanti-wanti supaya tidak ada kecerobohan yang membuat pasien `paket hemat` ini jadi tidak hemat lagi.
"Alirin aja?" tanya Bima, mukanya panik.
"Iya aja deh, kasian pasiennya perlu infusnya juga."
"Segini kan gak akan bikin emboli."
Was-was, kami mengalirkan kembali infusnya sambil berdoa semoga pasien ini baik-baik saja setelah menerima udara dari infusnya.
Mendadak, gue teringat sesuatu. Selama 3 minggu ini, gue udah berulang kali menghadapi masalah infus: mulai dari infus mampet, infus yang bikin tangan pasiennya bengkak, dan infus kemasukan udara seperti ini. Seperti biasa, gue selalu didampingi perawat senior kalau jaga di bagian anestesi ini, dan perawat senior itu udah berpengalaman banget menghadapi yang seperti ini. Sebutan kerennya, perawat senior itu udah pro. Karena pada dasarnya gue tukang nyontek ilmu orang dalam praktek, gue selalu menyadur ide perawat itu. Trik mengalirkan cairan infus setelah selangnya dilepas pun hasil nyontek dia.
Dan ada satu trik lagi yang lebih expert, tapi harus lebih hati-hati juga.
Trik inilah yang akan gue pake.
"Bim, sebenernya bisa sih kita keluarin udaranya, pake jarum suntik."
"Hah?"
"Iya, infusnya dijalanin aja, terus bla... bla... bla..." gue menceritakan pengetahuan (cemen) gue pada Bima yang udah hapal isi textbook penyakit dalam waktu baru masuk kuliah preklinik. Bima keliatan kagum dengan ide itu, lalu berusaha mempraktekkannya diam-diam tanpa sepengetahuan perawat supervisor kami, karena kami sudah disuruh untuk mengalirkan saja infusnya. Gue yang bertugas menjalankan infus mengawasi Bima yang mempraktekkan trik gue dengan cemas. Bagaimana kalau gagal? Bagaimana kalau infusnya malah jadi bocor? Bagaimana kalau hari ini seharusnya libur nasional?
Ketika Bima memberikan jempol ke gue dan bilang, "Sukses!" rasanya gue seperti baru menyelamatkan dunia.
Yep, we just saved one person from emboly. Kami merasa seperti baru saja mengangkat tumor ganas dari tangan pasien itu dan bilang, "Pak, Bapak sembuh total!" padahal kenyataannya jauh dari itu.
Mengharukan, sekaligus menggelikan.
Pesan moral: kalau bertugas di bagian anestesi, jangan pernah meremehkan mengganti botol infus.
0 komentar:
Posting Komentar