Selasa, 12 Desember 2017

Game List

Berikut gue akan membuat list soal game yang pernah gue mainkan selama koas.
1. Obgyn — LINE Get Rich
2. THT — Hotel Story
3. Mata — LINE Get Rich
4. Anestesi — Get Bigger! Mola
5. Forensik — One Piece Treasure Cruise (LINE)
6. IPD — One Piece Treasure Cruise (Intl version)
7. Anak — City2048
8. Kulit — Twenty!
9. Saraf — Tahu Bulat
10. Radiologi — Glass 2 Glass
11. Jiwa — Color Flood
12. Bedah — Gardenscape
Read More

Selasa, 18 April 2017

#koassalahgaul

Koas, sebagaimana mahasiswa kedokteran pasti sudah tahu, adalah mahasiswa kedokteran yang sedang menjalani pendidikan profesi alias satu langkah lebih dekat dengan jas putih. Di sisi lain, kebanyakan mahasiswa kedokteran juga tahu kalau koas adalah sebuah akronim, yaitu dari kumpulan orang aneh serba salah—karena, yep, di mana-mana pasti kami selalu disalahkan.

Buat refreshing diri sendiri, gue akan berbagi contoh 'kesalahan' kami. Beberapa kejadian dari gue sendiri, beberapa lagi dari sesama koas alias teman-teman gue yang namanya disamarkan.

1. Muka
Stase pediatri alias anak adalah salah satu yang paling hell di rotasi koas gue dan 99% koas lainnya dari angkatan gue. Berhadapan dengan anak-anak tentunya ada dilema sendiri. Anak-anak biasanya berwajah unyu, menggemaskan, punya pernak-pernik lucu, dan kalau tertawa membuat kita bahagia, apalagi kalau masih umur-umur bayi. Di sisi lain, kalau mereka sudah menangis, rasanya pengen sujud minta ampun dan berlari sekencang-kencangnya supaya bisa pergi dari depan mereka.

Sisi horor lainnya dari bagian pediatri adalah pembagian follower atau istilahnya pembagian koas mana yang resmi jadi asisten konsulen tertentu. Kalau kebagian konsulen yang asyik, tentunya anugerah. Kalau kebagian yang terdiagnosis killer, nah itu musibah.

Teman gue, Febi, kebetulan kebagian follow konsulen yang orangnya agak strict dan ditakuti/disegani koas lainnya. Gak ada yang berani macam-macam sama konsulen itu, kalau kata yang pernah follow, 'koas beneran dah lu'.

Suatu hari, usai visite, konsulen tersebut menegur Febi sebelum menulis status, "Saya gak suka muka kamu," karena merasa tampang Febi menantang dan nyolot. Setelah bilang begitu, konsulen tersebut serius menghadap status pasiennya dan menuliskan hasil pemeriksaan di rekam medis.

Febi berkata, "Maaf Dok..." dan menggantungkan ucapannya.

Konsulen tersebut berhenti menulis.

"...muka saya emang begini dari lahir."

Tik.

Tik.

Tik.

Prak! Konsulen tersebut membanting pulpennya dan marah. "Kamu berani-beraninya membantah guru!" Follower konsulen tersebut selain Febi langsung tegang. Selama ini memang siapa pun yang berhadapan dengan konsulen tersebut seolah diwajibkan diam dan minta maaf kalau ditegur/diceramahi. Sedangkan Febi malah... bilang mukanya begini sejak lahir.

Waktu dengar cerita ini dari Febi, gue ketawa sampai pipi gue pegal dan tirus—bercanda. Febi terus-terusan bilang, 'jawaban gue kan gak salah', 'kenapa gue harus minta maaf', dan 'gue pikir gue bakalan ngulang anak'.

Kalau dipikir-pikir... memang gak salah jawabannya. Tapi, namanya juga koas. Dianggap selalu salah. (Meski mungkin iya salah karena dianggap membantah. Sekali lagi: namanya juga koas.)

2. Time-out
Salah satu horor lainnya di bagian pediatri adalah minggu perinatologi, alias 2 minggu berhadapan dengan bayi-bayi. Bayinya memang lucu dan mirip bakpao, minta dibawa pulang untuk dijadikan guling, dan bikin beberapa koas cewek ingin cepat punya bayi, tapi ada yang lebih seram di balik kelahiran bayi-bayi tersebut.

Itu adalah masa-masa menunggu kelahiran bayi yang lahir lewat operasi caesar karena koas anak harus melakukan time-out sebelum operasinya dimulai.

Buat yang gak paham, time-out itu semacam laporan pre-operasi, jadi asisten melaporkan ke konsulen mengenai diagnosis ibu yang akan menjalani caesar. Kedengarannya santai, 'laporan buat ngira-ngira bayi apa yang bakal kita terima nanti'. Kenyataannya, serem banget. Kalo dipikir-pikir, mungkin itu juga yang bikin ada format time-out di ruang koas.

Hari itu, gue dan Darma, pasangan jaga gue sepanjang hidup di bagian anak, kebagian ikut operasi caesar sebagai asisten konsulen killer. Karena konsulennya perempuan, kalau senior-senior bilang, mending cowok yang maju. Gue seneng dong, artinya gue aman. Pas habis ganti baju khusus, Darma dengan santai datangin gue yang lagi nyalain warmer.

"Lu time-out ya."

Gue tidak jadi gembira.

"Kok gue?"

Gue panik. Gue kan cewek, ngomong aja suka belepotan. Konsulen killer itu senengnya sama koas cowok, mau koasnya ngomong sambil sikat gigi dan nyembur-nyembur juga kayaknya gak apa-apa. Sekali lagi: gue cewek. Tapi akhirnya, gue mengalah.

Waktu konsulen itu udah duduk di ruangan khusus, gue memberanikan diri. "Selamat siang dok, saya koas Judith mau melaporkan pasien Nyonya X usia blablabla—"

Konsulen gue menoleh.

"Dek, lihat gak saya lagi apa? Kamu tidak sopan sekali kepada guru kamu. Guru kamu lagi sibuk kenapa main nyerocos aja? Harusnya kamu tanya dulu apa saya bisa diganggu atau tidak." Dan intinya 10 menit berlalu hanya membahas soal itu sementara operasinya udah mau mulai. Gue ditegur masalah sopan-santun, kurang lengkap diagnosisnya, dan koas sekarang gak punya rasa ingin tahu.

Oke, kata gue dalam hati. Operasi selanjutnya gue bakalan bikin diagnosis super panjang sampai dia kasih jempol.

Pas gue keluar ruangan, Darma cengar-cengir liat gue dimarahin.

Asemkunyit.

Berhubung hari itu ada 3 operasi, jadi urutan time-out kita begini: gue-Darma-gue. Gue hanya bisa memicingkan mata waktu Darma time-out tanpa disela tanpa diomelin.

Pasien ketiga gue kabarnya kehamilan risiko tinggi, begitu kabar dari koas obgyn (dan rekam medisnya), tapi gak ada info lebih lanjut sehingga gue berinisiatif anamnesis sendiri pasien gue. Dari sana gue dapet banyak informasi yang menurut gue bakalan bikin konsulen gue senang.

Awal time-out gue ke konsulen berlangsung mulus dengan izin kepada beliau untuk laporan, dan diagnosis gue sebutkan dengan lancar. Gue merasa di atas angin.

"Kenapa diagnosisnya kehamilan risiko tinggi?"

"Pasiennya pernah menjalani operasi jantung, Dok." Gue menjawab penuh keyakinan.

"Operasi jantungnya karena apa?"

"Ada riwayat myxoma." Gue mengutip kata-kata pasiennya, padahal waktu itu gue sendiri gak tahu kenapa bisa ada myxoma di jantung dan bagaimana patogenesisnya. Kalau saat itu gue sedang ujian SOCA, gue pasti langsung gak lulus.

"Lalu operasinya di mana?"

"........" Kalau disuarakan, ada bunyi tik tik tik di kepala gue.

Hah?

Di mana? Gue bahkan gak tahu harus nanya yang kayak gitu. Konsulen gue menghela napas. "Harusnya kamu tanya operasinya di mana. Memangnya kamu gak pengen tau di mana? Kan keren kalau tahu operasinya di mana." Konsulen gue menyebutkan satu rumah sakit yang samar-samar gue pernah dengar di suatu waktu dan tempat. "Kalian koas-koas kenapa gak punya rasa ingin tahu sih? Kenapa gak ingin belajar?"

Gue menunduk, merenungi kata-kata konsulen tersebut dan berpikir lama sepanjang sisa operasi. Semua mahasiswa kedokteran selalu diingatkan untuk belajar seumur hidup dan penuh rasa ingin tahu, tapi bagaimana caranya kita sampai di posisi kita merasa 'cukup tahu' karena akan selalu ada orang yang posisinya lebih di atas dan mengatakan kita 'belum cukup tahu'? Apakah konsulen gue juga tetap merasa 'belum cukup tahu'?

Tiga operasi caesar itu berlangsung kurang-lebih tiga jam, dan gue bisa dengan lantang bilang bahwa itu tiga jam terlama dalam hidup gue.

Read More

Rabu, 02 Desember 2015

Koas dan Infus

Bagi kami, para koas, infus adalah salah satu dari sekian tindakan yang kami anggap keren. Bagaimana tidak, sebagai calon dokter, kami diwajibkan untuk bisa memasang infus pada manekin dan tentunya pada orang betulan. Sejak awal kuliah di preklinik, kami sudah banyak `didoktrin` mengenai hal-hal yang bisa terjadi apabila kita melakukan kesalahan-kesalahan kecil dalam memasang infus. Salah satunya adalah adanya udara di selang infus.

Gue masih ingat betul, sewaktu semester 1 kuliah, gue pernah diopname dan dipasangi infus untuk memasukkan obat-obatan. Karena baru dikasih tahu kalau kemasukan udara dari selang infus bisa bikin emboli, gue selalu sangat panik kalau menemukan udara di selang infus gue dan selalu memencet-mencet bel dengan hiper.

Seorang perawat masuk sambil tersenyum lebar. "Kenapa, Mbak?"

"Ada gelembung di infus saya," gue mengadu, seolah-olah infus yang ada di tangan gue semaunya sendiri `menelurkan` udara ke selang infus gue.

Perawat itu dengan kerennya melakukan manuver sentil-selangnya-sampai-udaranya-naik dan menyelamatkan gue dari emboli udara. Setiap setengah jam atau satu jam, setiap kali gue menemukan infus gue bergelembung, gue memencet bel dengan heboh. Gue kan nggak mau kena emboli, gitu lho. Baru-baru ini, setelah di koas, gue tahu kalau emboli baru terjadi kalau udara yang masuk itu jumlahnya cukup banyak, misalnya sepuluh gram udara.

Asemkunyit.

Suatu siang, gue sedang bertugas jaga ruang operasi atau yang biasa kami sebut sebagai OK bersama seorang teman seangkatan yang jadi junior gue, namanya Bima. Operasi yang kami jaga sebagai koas anestesi adalah operasi hernia—ya, bisa dibaca sendiri hernia itu apa dan operasinya bagaimana
—dan pasien kami yang sudah dibius total memakai infus agar dapat memantau cairan yang masuk dan juga lebih mudah memasukkan obat.

Segalanya berjalan dengan damai, persiapan pembersihan area operasi dan pembiusan pasien tersebut. Time out operasi dibacakan dengan sedikit kegaduhan karena nama pasien yang dibacakan oleh teman gue yang lainnya, Maya, berbeda dengan yang ada di status pasien. Usut punya usut, Maya salah membaca nama yang ditulis oleh perawat OK. Kasus selesai. Pengadilan batal dilaksanakanbercanda.

Gue dan Bima yang sudah setengah mengantuk dan kelaparan memutuskan untuk tidak banyak bergerak supaya bisa menghimpun banyak cadangan energi. Seperti beruang kutub, kalau sudah kedinginan harus hibernasi. Kami memasukkan obat dan mengganti botol infus dalam diam sampai pada suatu ketika...

"Bim."

"Apa?"

"Ganti tuh, antibiotiknya udah abis." Gue nunjuk botol infus kecil yang diisi oleh racikan antibiotik.

"Oke." Dia membuka botol infus baru, gue melepaskan selang infus dari botol antibiotik—yang selangnya kami kunci tepaaaat sekali sebelum isi kolom udaranya habis. Gue merasa keren, bisa memindahkan infusan dengan gampang. Tapi, sepertinya karma mengutuk gue. Perpindahan infus yang seharusnya berlangsung tanpa ada kejadian aneh malah jadi aneh-aneh betulan. Entah gimana caranya, waktu kita pencet lagi kolom udaranya, selang yang harusnya penuh terisi cairan infus malah terisi udara kira-kira satu setengah sentimeter.

"Lho, ada udaranya!"

"Eh, iya!"

Kita berdua jadi sama-sama seger lagi.

"Bim, ayo keluarin udaranya," ajak gue.

Bima lalu beratraksi—mulai dari melilit-lilitkan selang infus di jarinya sampai menyentil-nyentil heboh. Terakhir, Bima malah memijit-mijit si selang infus supaya udaranya makin lama makin naik. Usaha yang terakhir agak berhasil. Ketika gue dan Bima mau bersorak gembira, udaranya mampet tepat di pangkal selang, sebelum kolom udara.

Krik.

Krik.

Krik.

"Waduh, gimana nih?" tanya Bima.

Gue, yang udah 3 minggu lebih dulu di anestesi, berpikir keras. Gue memang sering lihat perawat OK mengeluarkan udara dari selang infus dengan cara... selang infusnya dilepas dulu lalu cairannya dialirkan ke bawah. Masalahnya, pasien kami ini 'paket hemat' jadi kami harus berhemat sebisa mungkin sampai ke infus-infusnya. Apalagi, perawat yang mensupervisi kami sudah mewanti-wanti supaya tidak ada kecerobohan yang membuat pasien `paket hemat` ini jadi tidak hemat lagi.

"Alirin aja?" tanya Bima, mukanya panik.

"Iya aja deh, kasian pasiennya perlu infusnya juga."

"Segini kan gak akan bikin emboli."

Was-was, kami mengalirkan kembali infusnya sambil berdoa semoga pasien ini baik-baik saja setelah menerima udara dari infusnya.

Mendadak, gue teringat sesuatu. Selama 3 minggu ini, gue udah berulang kali menghadapi masalah infus: mulai dari infus mampet, infus yang bikin tangan pasiennya bengkak, dan infus kemasukan udara seperti ini. Seperti biasa, gue selalu didampingi perawat senior kalau jaga di bagian anestesi ini, dan perawat senior itu udah berpengalaman banget menghadapi yang seperti ini. Sebutan kerennya, perawat senior itu udah pro. Karena pada dasarnya gue tukang nyontek ilmu orang dalam praktek, gue selalu menyadur ide perawat itu. Trik mengalirkan cairan infus setelah selangnya dilepas pun hasil nyontek dia.

Dan ada satu trik lagi yang lebih expert, tapi harus lebih hati-hati juga.

Trik inilah yang akan gue pake.

"Bim, sebenernya bisa sih kita keluarin udaranya, pake jarum suntik."

"Hah?"

"Iya, infusnya dijalanin aja, terus bla... bla... bla..." gue menceritakan pengetahuan (cemen) gue pada Bima yang udah hapal isi textbook penyakit dalam waktu baru masuk kuliah preklinik. Bima keliatan kagum dengan ide itu, lalu berusaha mempraktekkannya diam-diam tanpa sepengetahuan perawat supervisor kami, karena kami sudah disuruh untuk mengalirkan saja infusnya. Gue yang bertugas menjalankan infus mengawasi Bima yang mempraktekkan trik gue dengan cemas. Bagaimana kalau gagal? Bagaimana kalau infusnya malah jadi bocor? Bagaimana kalau hari ini seharusnya libur nasional?

Ketika Bima memberikan jempol ke gue dan bilang, "Sukses!" rasanya gue seperti baru menyelamatkan dunia.

Yep, we just saved one person from emboly. Kami merasa seperti baru saja mengangkat tumor ganas dari tangan pasien itu dan bilang, "Pak, Bapak sembuh total!" padahal kenyataannya jauh dari itu.

Mengharukan, sekaligus menggelikan.






Pesan moral: kalau bertugas di bagian anestesi, jangan pernah meremehkan mengganti botol infus. 
Read More

Followers